Painews
Agam Provinsi Sumbar

Nana Fauzana Azima .M.Pd Owner WGC Menjadi Mentor Kalangan Mahasiswa, Guru, Dosen, Pekerja Sosial, Dan Wartawan Dalam Menulis

(Painews.id) Agam — Nana Fauzana Azima, M.Pd. Owner kelas menulis Writing Guidance Center ini lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 5 Januari 1995. Wanita berdarah Minangkabau ini menempuh pendidikan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan S2 Pendidikan Dasar di Universitas Negeri Padang. Sebelumnya ia mengenyam pendidikan di SMAN 3 Bukittinggi, MtsN 2 Bukittinggi, dan SDN 11 Jambak. Di samping sebagi penulis dan editor, Nana juga merambah dunia pendidikan dan jurnalistik. Si bungsu dari tiga bersaudara ini, juga menjabat sebagai ketua umum Komunitas Bukittinggi Membaca.

Berbagai karya tulis telah menjadi bukti kecintaannya pada dunia tulis-menulis, buku Simfoni Jejak yang diterbitkan pada 2018 lalu merupakan karya andalannya. Selain itu, Nana juga telah menerbitkan berbagai artikelnya di media cetak dan jurnal internasional.

Putri dari Bapak Wardi Affan dan Ibu Evat Maria ini merupakan finalis Duta Baca Sumatra Barat pada tahun 2017. Berbagai kejuaraan dalam bidang menulis pernah diraihnya. Nana juga kerap diundang sebagai narasumber dan juri dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan membaca, menulis, dan jurnalistik.

Nana dapat dihubungi melalui E-mail nanafauzana15@gmail.com, Facebook Nana Fauzana Azima, dan Instagram @azimanana_.

Writing Guidance Center (WGC) merupakan kelas menulis yang didirikan oleh Nana Fauzana Azima,M.Pd.

Saat ini ada tiga program yang terdapat di WGC, yaitu kelas menulis cerpen, kelas menulis puisi, dan kelas menulis artikel.
Saat ini kelas menulis cerpen sudah berjalan 6 gelombang, kelas menulis puisi 1 gelombang, dan kelas menulis artikel 1 gelombang.

Untuk kelas menulis cerpen, peserta dibatasi untuk 15 orang di setiap gelombangnya, Kelas menulis puisi 20 orang, dan kelas menulis artikel 10 orang.

Kelas menulis ini berlangsung secara daring, menggunakan aplikasi belajar _online_. Setiap peserta dibimbing langsung oleh mentor dari awal hingga akhir penulisan.
Peserta dibekali ilmu teknik-teknik penulisan, bagaimana menemukan ode cerita, merangkai cerita, dan tata tulis sesuai PUEBI dan KBBI.

Di akhir jadwal kelas, peserta menyerahkan naskah kepada mentor, Selanjutnya naskah direvisi dan diedit oleh tim editing WGC.
Naskah yang telah diedit, lalu dibukukan dalam buku antologi.

Pada kelas menulis cerpen, masing-masing penulis mengumpulkan satu naskah cerpen, sehingga dalam satu gelombang terdapat 15 cerpen yang dibukukan dalam satu buku antologi cerpen.

Begitu juga dengan kelas menulis puisi, terdapat 20 orang peserta, yang masing-masingnya mengumpulkan 5 puisi, sehingga dalam satu gelombang terkumpul 100 puisi yang dibukukan dalam buku antologi puisi.
Sementara itu, untuk kelas menulis artikel, setiap penulis menyerahkan satu artikel yang diterbitkan di surat kabar.

Saat ini jumlah peserta kelas menulis WGC totalnya 120 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mayoritas peserta adalah dari Sumatra Barat, namun ada juga yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Jambi, Medan, dan beberapa kota di Pulau Jawa.

Peserta terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, dosen, pekerja sosial, wartawan, dan lainnya.

Kepada media Nana menyebutkan , di antara buku-buku yang telah diterbitkan yaitu antologi cerpen gelombang 1 yang berjudul “Lelahku Anugerah”,antologi cerpen gelombang 2 yang berjudul “Anugerah Lelahku”,antologi cerpen gelombang 3 berjudul “Bukan Impian Biasa”, antologi cerpen gelombang 4 berjudul “Bukan Sekadar Impian” dan antologi puisi gelombang 1 berjudul “Semesta Menjelma Kata”. Saat ini kelas menulis cerpen gelombang 5 dan 6 sedang berlangsung, dengan tema “pertemuan”

Leni pitrianis,S.Pd seorang guru di SDN 11 Sago. Kecamatan Lubuk Basung merupakan salah satu penulis dari buku ” Bukan Impian Biasa ” . Sepertinya dewi fortuna belum memihak kepada ibu cantik ini.

Walaupun masih berstatus guru honorer, tak menyurutkan langkahnya untuk berinovasi dan berkarya. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.Dia lahir di Tengkong-tengkong, 17 Agustus 1985.

Dia merupakan guru di SDN Sago kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam.

Baginya menulis merupakan hal yang menarik dan menantang karena susah -susah gampang saat mengeluarkan inspirasi dan merangkainya menjadi sebuah kata dan susunan kalimat yang menarik sehingga dapat di pahami oleh si pembaca.

maka dari itu penulis berharap semoga tulisannya dapat memberi inspirasi bagi setiap pembacanya.

Bukan Impian biasa, merupakan buku kumpulan cerpen untaian kata-kata yang mengisahkan impian-impian hebat anak manusia. Impian yang mungkin terdengar biasa, namun alurnya membuat impian itu menjadi bukan impian biasa.

Buku ini di tulis untuk mengingatkan kita semua agar senantiasa bersyukur atas apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Buku ini juga menyiratkan pesan pada pembaca untuk terus mengejar impian. Tak ada impian yang tak mungkin, bila kita yakin akan keagungan Tuhan,dan percaya bahwa kata menyerah tidak diciptakan untuk orang yang ingin berhasil.

Begitu banyak peliknya kisah yang di sajikan dalam alur pencapaian sebuah impian. Bacalah! Anda akan percaya bagaimana sebuah impian mampu mempengaruhi sisi kehidupan seorang manusia.

Kepada Media, Leni Pitrianis menyampaikan harapannya agar teman teman sejawatnya juga dapat terinovasi untuk berkarya seperti ia. Leni juga mengatakan dirinya bergabung menulis di WGC di ajak oleh temannya. Kita di bimbing oleh Nana Fauzan Azima. M.Pd. Beliu itu adalah owner dari WBC. ” Ungkap Leni Pitrianis”. ( AL GURU).

 

Related posts

Kebijakan Diskominfo Agam Dinilai Mengkebiri Wartawan

Bang Dheny

“Sefria Meli” Kasi Kesejahteraan Sosial, di Lantik Sebagai Pj Wali nagari Geragahan

Tobi

6 Kafilah Agam Perkuat Kontingen Sumbar di MTQ Tingkat Nasional XXVIII

Tobi
Share via